Senin, 07 November 2011

Inginnya Bisa Pintar Bersama :)


Awalnya tidak pernah terfikir untuk bisa menggeluti dunia yang seperti ini. Ini tidak termasuk dalam daftar mimpi-mimpi saya, ini tidak pernah masuk dalam daftar besar nanti mau jadi apa saya, tidak pernah sedikit pun terfikirkan bahwa suatu hari nanti saya akan mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak. Tidak pernah! Awalnya mungkin hanya ingin mengisi waktu luang saya di pagi hari sebelum sibuk dengan aktifitas perkuliahan. Ya, memilih menjadi guru TK ini sungguh sebuah kebetulan.
Ketika bertemu dengan mereka yang umurnya tidak lebih dari 5 tahun, membuat saya berkata ‘ha?’ ‘hmmm’ dan sebagainya. Saya akui, mereka lucu-lucu, mereka pintar-pintar, mereka atraktif, mereka senang sekali berceloteh, mereka selalu ingin diperhatikan, mereka manja, aaahh mereka….. ya mereka masih anak-anak. Suatu ketika, salah seorang dari mereka ditinggal oleh ibunya, dan berteriak lah dya sekuat tenaga, menangis tiada henti, padahal dia termasuk anak yang kalo boleh saya sebut “preman” tapi dia menangis ketika ditinggal oleh ibunya untuk sekolah. Dan taukah apa yang ada difikiran saya ? “how can ? kenapa dia begitu pengecutnya ? padahal dia preman?”.
Itu baru satu, adapula yang supeeeerrrr joorrroookk dan kalau sudah makan berantakan disana sini, saya adalah orang yang tidak betah melihat suasana ruangan yang berantakan, saya pula yang harus membereskan bekas makanannya agar mejanya dapat dia gunakan kembali untuk belajar, dan ketika dia ingin bermanja, dia memeluk saya dengan bibir yang kotor bekas makanan, aaaarrrggghhh! Bajuu saya kotoor, sungguh tidak suka!
Belum lagi ketika mereka menangis, mereka ngambek, mereka yang dengan manjanya ketika saya suruh mereka untuk menulis dan berkata, “saya gak bisa bu” padahal hal itu sama sekali belum dicoba, dia sudah mengatakan “tidak bisa”, saya pegangi tangannya untuk menulis mengikuti pola huruf/ angka yang sudah ada, dan ketika saya lepaskan tangan saya dari tangannya, tau apa yg dibuatnya ? sebuah coret-coretan. Ketika ditanya “kenapa kamu malah membuat coretan bukannya menulis seperti yang ibu guru suruh ?” dan dya dengan manjanya menjawab, “saya gak bisa bu guru”, dan kembali lagi saya harus memegang tangannya agar dia mau menulis. Hhhhaaassshh, aku seperti seorang pengasuh saja, terkadang ada kekesalan dan ingin sekali berteriak pada mereka, “Heii! Kerjakan kalo kamu mau pintarr!”, tapi mereka masih anak-anak, usia mereka tidak lebih dari 5 tahun.
                Dan tidak pernah terfikirkan bahwa saya akan mengajar seorang anak yang hiperaktif, autis, cengeng, ambekkan, sensitive, dan macam-macam lagi bentuk mereka. Tapi itulah mereka. Mereka sungguh sangat apa adanya. Mereka berasal dari keluarga dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, lingkungan yang berbeda, tapi saya ikut andil dalam membentuk karakter mereka. Mereka yang cengeng harus bisa saya ubah menjadi seorang yang mandiri, mereka yang hiperaktif harus bisa saya taklukkan agar mereka mau sedikit lebih pendiam, yang suka berceloteh harus bisa saya buat bagaimana caranya mereka bicara pada tempatnya, mereka yang autis  bagaimana caranya saya buat agar emosinya dapat terkontrol dengan baik, agar mereka mau patuh pada orang tua, agar mereka mau rajin kesekolah, agar mereka mau rajin belajar, dan berfikir kreatif. Saya memikirkan semua itu membuat saya menangis, “Ya Allah, begitu berat tugas yang saya jalani. Bagaimana ketika saya tidak bisa memberikan contoh seperti apa yang saya katakana pada mereka. Bagaimana jika ilmu yang saya berikan malah tida berguna bagi mereka ?”.
                Saya harus mengajari mereka banyak hal, yang mungkin saya sendiri jarang melakukannya. Saya tidak pernah tau bahwa tugas seorang guru itu bisa seberat ini, serumit ini. Yang saya tau seorang guru itu adalah mereka yang pintar tentang ilmu yang mereka kuasai dan pintar bicara. Ternyata, saya salah besar!
                Ada rasa simpati yang sangat besar selama menjadi guru. Ya saya memang baru 3 bulan menjadi guru, ya hanya seorang guru TK. Ada rasa kehilangan yang sangat perih ketika kami sudah saling akrab, sudah saling bercerita, sudah saling berbagi, dan  diantara mereka harus keluar dari sekolah karena mereka tidak mempunyai cukup biaya, atau karena masalah diantara kedua orang tuanya dan mereka yang menjadi korban, pendidikan mereka jadi tergadai. Ingin sekali rasanya saya bilang pada orang tua mereka, “tolong biarkan saya mengajar mereka setidaknya sampai mereka bisa baca tulis, tolong biarkan mereka untuk tetap sekolah dan bermain bersama teman-temannya dan saya”, tapi apa yang saya bisa perbuat ? sekolah tetap lah sekolah, bangunan tua itu pun harus diperbaiki, ayunan yang karatan itu harus segera diganti, semua perbaikan itu butuh biaya, buku dan baju seragam yang diberikan tidak dengan gratis.
                Saya hanya bisa membesarkan hati saya, dan beralasan yang sama ketika yang tersisa bertanya diamana temannya yang lain. Dari 4 kini tersisa 2, berhara 2 yang pergi itu bisa kembali bersekolah walau tidak disekolah yang sama. Saya tau mereka anak-anak yang pintar. Semoga saya bisa bertemu kembali dengan mereka. I miss you my student Dinda and Ayu, big hug and love from we Bu Guru, Genio, and Farah J.
Ada kesalahan di dalam gadget ini